03 Oktober 2007

BILANG CABUT, GITU SAJA REPOT

oleh : Sigit Harsanto
GENAP 35 hari sejak malam pemberian anugerah Festival Film Banyumas (FFB) yang digelar untuk kali pertama. Selama itu, Bikin Film Production (BFP) yang membuat film “Kenapa Ful” dan Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) sebagai penyelenggara, belum juga menyadari kekhilafannya. Para pegiat film yang mengetahui bahwa telah terjadi kekeliruan fatal dalam ajang ini, hanya berani bisik-bisik di belakang panggung. Mereka barangkali begitu tak enak hati menyinggung perasaan KJTP, sehingga tak berani mengkoreksi. Misalnya, seperti kita ketahui, melalui press-release di beberapa media cetak KJTP pernah mengancam memboikot Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga agar tidak bisa ikut dalam event perfilman yang diadakan seluruh stasiun di negeri ini. Semua bermula tatkala CLC menyatakan tak bisa mengikuti FFB, karena saat itu tengah berkonsentrasi pada rangkaian workshop pelajar SMA di Purbalingga. Saat saya menulis ini, stasiun Trans7 telah memastikan untuk menayangkan program Fenomena, Jumat 27 Juli pukul 23.30. Tapi bukan untuk menyiarkan pernyataan KJTP yang gembar-gembor hendak memboikot CLC dan film Banyumas. Sebaliknya, stasiun televisi itu malah menampilkan betapa riangnya para sineas Purbalingga membuat film di bawah payung CLC. Kesimpulannya, ancaman KJTP terdahulu itu hanyalah bagian dari perang urat syaraf yang wajar terjadi di kalangan politikus, namun sudah tentu sangat abnormal dan menggelikan bagi kalangan seniman, termasuk film. Keengganan sineas lokal berkomentar jelas menjadi preseden buruk bagi perkembangan dunia film. Di sini ada dua kemungkinan, pertama para sineas lokal dari berbagai komunitas film di Banyumas telah merasa gerah terlebih dahulu terhadap FFB, mengingat KJTP telah menyerang CLC yang notabene telah berjalan beriringan dengan mereka selama ini, dalam kerangka membangun jejaring antarkomunitas film. Sehingga ini mengerucut pada hal yang kedua, bagi mereka FFB bukanlah satu bentuk perayaan yang patut karena toh selama ini KJTP tak berjalan bersama untuk turut merawat jalinan komunitas demi kemajuan film Banyumas. Apapun, film dan ajang festival film yang tanpa kritik membangun, bakal menjadi mercusuar: menjulang di luar namun kosong di dalamnya. Apa susahnya bilang terus terang bila film “Kenapa Ful” besutan BFP tidak pas meraih penghargaan FFB. Gitu aja kok repot! Alasannya, surat kabar telah menulis dengan jelas bahwa “Kenapa Ful” diproduksi di Desa Datar Kecamatan Warungpring Kabupaten Pemalang. Publikasi KJTP sedari awal telah membuat aturan main bahwa FFB hanya menerima film yang mengambil lokasi pengambilan gambar di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas, tidak termasuk Kabupaten Pemalang. Kalau toh BFP tidak mengetahui aturan main itu, presenter Ayumi dan Braham sesaat sebelum penganugrahan sudah mengutip aturan tersebut. Dalam tempo yang bisa dibilang terlampau lama untuk sebuah kelalaian mahadahsyat ini, saya kira lebih dari cukup untuk memberi waktu pada KJTP menyadari noda yang tak semestinya itu sekaligus berharap BFP mengambil sikap ksatria. Bila nyatanya tidak, melalui catatan ini saya mengusulkan pencabutan penghargaan untuk kategori Sinematografi Terbaik atas nama Feri Ferdian dan Penata Musik Terbaik yang digarap Aji Triyanto dan Agung Doso. Ketiga kru BFP itu bukannya tidak berkualitas, karena seperti diketahui, “Kenapa Ful” juga meraih predikat Film Terbaik pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) 2006 di Makassar. Kekeliruan jatuhnya penghargaan pada pihak yang tidak tepat itu bukanlah tanggungjawab dewan juri. Seperti festival umumnya, dewan juri tentu hanya menerima dan menilai film yang sebelumnya telah diloloskan oleh komite seleksi, atau kurator film. Pada sebuah festival film yang baik dan terkonsep matang, formulir pendaftaran yang diisi setiap peserta jelas bisa menjadi profil yang berguna bagi seleksi administratif seperti ini. Artinya, film-film yang tak sesuai dengan kriteria dan aturan main sudah bisa dideteksi dari semula. Ini merupakan hal yang sangat konyol dan aneh jika ’sampe hari gini’ penyelenggara tak kunjung menyadari cacat hasil dari aturan yang mereka bikin sendiri. Semoga bukan karena kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Tentunya mari kita percaya bahwa semua ini terjadi semata karena keteledoran sebagai pemula yang kurang gaul, dan bukan karena pesan sponsor.* (Kolom Padon, Harian Suara Merdeka. Tulisan ini adalah versi lengkap.)

0 komentar: