30 Desember 2007

BSF Suguhkan Film Terbaru

Purbalingga

Di penghujung tahun 2007, Bamboe Shocking Film (BSF) ke-4 tampil dengan tiga film anyar karya anak-anak muda Kota Perwira. “Foto”, “HOP”, dan “Bunga Terakhir”, demikian judul ketiga film itu.

BSF, program bulanan yang digelar Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga ini akan menyapa pecinta sinema pada Sabtu, 22 Desember 2007, pukul 19.30 WIB, di Cafe Bamboe, Jl Jend. Sudirman No 116 atau sebelah timur alun-alun Purbalingga.

Menjadi (seperti) dewasa, dengan melakukan hal-hal yang dikerjakan kaum dewasa menjadi latar dalam film “Foto” dan “HOP”. Kedua film ini adalah sebagai wujud kecintaan pembuat film terhadap profesi dan tentu buah hatinya.

“Foto” bercerita tentang sebuah studio foto dengan segenap aktivitasnya. Datang pelanggan, bergaya, hasil foto diedit, dicetak lalu, bayar langsung. Tidak ada yang kebaruan dalam film garapan sutradara Ayun ini, namun yang istimewa adalah para pemainnya, anak-anak di bawah umur.

Pun demikian dalam film “HOP”. Bagaimana seorang balita (bawah lima tahun) mengendarai sebuah mobil seperti layaknya orang dewasa. Berkeliling kota dan bergaya ketika masuk komplek perumahan.

Berbeda dengan “Foto”, dalam “HOP” terdapat konflik yang dimunculkan. Bagaimana anak-anak yang tinggal di komplek perumahan bermain dengan hal yang menantang dan cenderung membahayakan diri mereka. Mendorong mobil beramai-ramai tanpa berpikir risiko. Namun dengan cara mereka

“Dunia anak-anak adalah dunia bermain-main yang menyenangkan dan kerap tidak memikirkan risiko dengan permainan yang membahayakan. Tapi tidak jarang pula mereka mampu menyelesaikannya sendiri dengan pengetahuan dan cara-cara mereka,” tutur Uswantoro, sang sutradara mengomentari film terbarunya.

Ceria, lucu, dan menggemaskan. Demikian kesan yang terdapat pada kedua film ini. Sementara “Bunga Terakhir” buatan pelajar SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga juga tampil dengan dunia mereka, remaja, yang sebenarnya jauh dari realita remaja-remaja di kampung. Apapun, film ini menambah warna bagi perfilman di Purbalingga.

Bamboe Shocking Film (BSF) yang sudah empat kali berjalan menjadi ajang pemantik bagi anak-anak muda Purbalingga dan Banyumas umumnya, dalam menggemari dan mengembangkan hobi dibidang film. “Disamping ajang apresiasi, BSF juga sebagai pemanasan untuk ajang terbesar di Purbalingga yaitu Parade Film Purbalingga (PFP) yang segera hadir ditahun 2008,” tutur penanggung jawab program BSF, Trisnanto Budidoyo

30 Oktober 2007

TAKUT KERE? JANGAN JADI SENIMAN

Takut Kere? Jangan Jadi Seniman!-ungkap Daryono Yunani, seorang berdarah Cilacap yang menekuni dunia Seni sejak masa kanak-kanaknya, membuat ia kebal dalam menjalani kehidupan. Beberapa karya lukisannya mengisyaratkan kekuatan jiwa Bangsa Indonesia, dalam memahami arti perubahan dan arti kekecewaan. Warna-warna yang ditorehkannya dalam kanvas, merupakan gambaran kejiwaan bangsa ini.
Sungguh sesuatu yang sangat sulit bagi Daryono Yunani, menjalani hidup yang semakin menggila ini. Keadaan yang serba terbatas, membuatnya menjadi tak malu lagi untuk melakukan pekerjaan serandah apapun. Baginya apapun yang dilakukan, asal Allah mengijinkan, semua akan menjadi nyata.
Belakangan ini, tak hanya melukis yang ia tekuni, tetapi juga melakukan pelatihan-pelatihan ke arah pendidikan seni dan budaya, seperti kenthongan anak, seni karawitan, seni sastra, dan seni teater.
Semua dilakukan tanpa mematok nominal yang harus sama setiap harinya. Kadang ia dapat lebih, kadang dapat pas-pasan, kadang juga tidak dapat sama sekali.
Dalam waktu 3 bulan kedepan, Daryono Yunani akan lebih serius melukis. Pasalnya di tahun 2008 awal, Sangkanparan mengajak Daryono Yunani menampilkan karya-karyanya dalam Pameran Tunggalnya. Pameran Lukisan Tunggal ini adalah hal yang sangat dinanti-nanti olehnya, karena ia berharap, lukisannya bisa dikenal di masyarakat, dan "syukur-syukur ada pejabat yang tertarik dengan goresan tanganku..."